- 05.44
- 0 Comments
Untuk
Anda yang menyukai fotografi dan wisata geologis, Anda harus mengunjungi tempat
ini. Ya, tempat itu bernama Granit, sebutan untuk taman batu granit besar yang
ada di Desa Purwodadi Dalam, perbatasan Tanjung Sari-Tanjung Bintang, Lampung
Selatan.
Di
tahun 2000-an, lokasi ini sangat populer di kalangan anak muda dan keluarga
yang ingin menghabiskan akhir pekan untuk menikmati sejuknya angin dan hijaunya
pemandangan. Namun sejak tahun 2009, lokasi ini mulai tidak terurus. Banyak
semak dan ilalang liar yang tumbuh di taman ini. Hingga anak muda yang memiliki
hobi fotografi alam kembali mempopulerkan tempat ini dengan seringnya melakukan
hunting ke lokasi yang penuh dengan
batu berukuran raksasa ini.
Untuk
mencapai lokasi, bukanlah hal yang mudah. Dari Bandar Lampung, jarak yang perlu
ditempuh ± 35 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jalan yang tidak rata
membuat perjalanan tidak benar-benar mulus.
Begitu
Anda tiba di Pasar Pal Putih, lanjutkan perjalanan ± 100 meter. Anda akan
menemukan palang kecil usang yang menunjukkan lokasi Taman Batu Granit Indah.
Dari sini, Anda akan melalui jalan berbatu menuju Desa Purwodadi Dalam. Silahkan
tanya kepada penduduk setempat lokasi taman ini, karena tidak ada palang yang
menunjukkan lokasi tersebut.
Dan,
taraaaaaaaa! Anda telah sampai di Taman Batu Granit Indah J Batu
granit besar yang terdapat di area ini tersebar di antara pepohonan karet. Tidak
jauh dari sana, akan terlihat sebuah batu bertumpuk yang membentuk gunug dan menjulang
di antara tingginya pohon karet.
Pemandangan dari atas
gunung batu Granit
Begitu
sampai di puncak gunung tersebut, Anda akan disuguhi hamparan luas perkebunan
karet hijau dan menyejukkan mata. Anda bisa bersantai sambil menikmati keindahan
alam Lampung. Dan saat sore hari, Anda akan bisa menikmati keindahan matahari
terbenam. That’s was awesome!
Sunset di Taman Granit
Jika
Anda berminat untuk berkunjung, tenang saja. Anda tidak perlu mengeluarkan
biaya sepeserpun untuk memasuki kawasan ini, selain bensin untuk kendaraan
Anda. Dan Anda bisa membawa bekal sendiri untuk disantap bersama teman dan
keluarga. Berminat? :D
#Let’sVisitLampung
- 10.08
- 0 Comments
Kejayaan
jaman megalitikum di Indonesia berlangsung selama ratusan tahun. Tidak sedikit peninggalan
dari zaman batu besar ini dan lokasi penyebarannya pun terdapat di banyak
daerah. Salah satu situs purbakala yang bisa Anda temui adalah Taman Purbakala
Pugungraharjo, yang terletak di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur.
Punden berundak
Pugungraharjo
Dengan
luas ± 25 hektar, taman purbakala satu ini memiliki banyak tinggalan sejarah
dari era yang berbeda, mulai dari masa prasejarah (zaman megalitikum), kerajaan Hindu-Buddha, hingga masa kejayaan
Islam. Artefak yang bisa Anda jumpai antara lain gelang perunggu, mata tombak,
batu asahan, pisau, batu pipisan, batu trap punden, dolmen, menhir,
manik-manik, batu bergores, batu berlubang, keramik lokal, dan keramik asing
dari berbagai dinasti China. Ini menunjukkan bahwa daerah ini pernah menjadi jalur
bagi pedagang dari China dalam melakukan perdagangan di Nusantara.
Selain
artefak, Anda juga bisa menemukan beberapa peninggalan berukuran besar, seperti
benteng Pugungraharjo, punden berundak, kompleks batu kandang, dan kolam
megalitikum. Di situs resmi Kementrian dan Kebudayaan sama sekali tidak
disebutkan mengenai kolam ini. Namun menurut papan keterangan yang ada di
lokasi, kolam ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan praktis seperti cuci,
minum, mandi, dan meramu.
Kolam megalitikum
Pugungraharjo
Kompleks
taman yang berada diketinggian 80 meter di atas permukaan laut menjadikan kawasan
ini sejuk dan nyaman. Tanah yang subur membuat tanaman-tanaman seperti kakao,
cabai jamu, kopi dan kelapa mudah tumbuh sehingga menambah keasrian tempat ini.
Anda
bisa mencapai lokasi dalam waktu ± 3 jam dari kota Bandar Lampung dengan jarak
sekitar 50 km. Sebenarnya jarak ini tidak terlalu jauh, namun karena kondisi
jalan yang berlubang di sana-sini membuat perjalanan Anda tidak mulus. Anda
juga perlu menyiapkan kantung plastik sebagai wadah tampung jika Anda sudah
merasa terlalu mual. Namun, tenang saja. Rasa lelah yang Anda rasakan selama
perjalanan akan terbayar lunas ketika Anda mulai memasuki kawasan yang indah
nan asri ini. Tertarik untuk berkunjung? :D
#Let’sVisitLampung
- 10.04
- 0 Comments
Bagi
Anda yang suka traveling dan
menjelajahi pesona laut Indonesia, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke
tempat ini. Di pulau yang dipenuhi dengan ikan badut (Amphiprion ocellaris), terumbu karang, anemon, dan ubur-ubur, Anda
akan merasakan betapa indah kekayaan bahari Indonesia. Sudah bisa menebak
lokasi yang dimaksud? Ya, Anda benar. Tempat wisata ini bernama Pantai
Pahawang.
Pahawang
sendiri adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten
Pesawaran. Mengapa dinamakan Pahawang? Karena putri dari orang yang pertama
tinggal di pulau ini bernama Pok Hawang. Lama-kelamaan, orang terbiasa
memanggil tempat ini dengan sebutan Pahawang.
Lalu,
apa saja yang bisa Anda kunjungi di sini? Sangat buanyaaakkkk!! Mengingat
daerah ini adalah surga bagi ikan badut dan ubur-ubur serta karang, Anda
dijamin tidak akan menyesal mengunjungi lokasi ini.
Oke.
Dimulai dari Pulau Pahawang Besar, wisata utama yang ada di tempat ini. Di sini
Anda bisa ber-snorkeling dengan
ditemani aneka anemon laut, ikan badut, terumbun karang, dan ubur-ubur yang
mempesona. Di bawah air, terdapat tulisan ‘I
love You Pahawang’ yang biasa digunakan wisatawan untuk berfoto. Di pulau
ini juga terdapat homestay yang biasa
digunakan traveler maupun wisatawan
untuk beristirahat.
Snorkeling di Pahawang
Dari
Pahawang Besar, kita menuju Pulau Pahawang Kecil. Letaknya tidak terlalu jauh
dari pulau utama, ± 10 menit menggunakan perahu. Di pulau ini terdapat sebuah
jembatan alami yang disebut dengan Tanjung Putus. Tanjung Putus inilah yang menghubungkan
Pulau Pahawang Besar dengan Pulau Pahawang Kecil. Jembatan ini berupa hamparan
pasir putih yang hanya terlihat ketika laut sedang surut. Menjelang senja jembatan
ini akan hilang, tertutup oleh air laut yang berwarna jernih kebiruan. Pulau
ini juga menjadi salah satu spot snorkeling
pilihan bagi wisatawan.
Snorkeling di Pahawang
Spot
snorkeling lain yang diminati wisatawan adalah Pulau Kelagian yang berjarak ± 45
menit dari Pahawang Besar. Pemandangan bawah laut pulau ini sangat mengagumkan.
Jika berminat, Anda bisa melihat matahari terbenam yang luar biasa indahnya
dari pulau ini sambil melepas lelah setelah seharian sibuk snorkeling.
Oh
iya. Saat snorkeling, wisatawan diperbolehkan
membawa roti untuk dibagikan kepada ikan-ikan yang ada di sana. Maka, syuuurrrr.. Ikan-ikan akan mendekati
Anda dan melahap remah-remah yang ada. Luar biasa!
Matahari terbenam di
Pahawang
Selain
ketiga pulau yang penulis sebutkan di atas, masih ada lagi tempat-tempat lain
yang bisa Anda kunjungi seperti Cukuh Bedil, Gosong Bekri, Pulau Balak, Gosong
Pancong, dan Gosong Kalangan. Dijamin, Anda akan terpesona dengan keindahannya.
Belum lagi pengelolaan tempat yang sangat mengutamakan keharmonisan dengan alam
sehingga kelestariannya tetap terjaga. Dan Anda juga bisa melihat kehidupan
sehari-hari penduduk di pesisir Lampung. Semua itu, untuk penulis merupakan
pengalaman yang sangat berharga.
Bagi
Anda yang berminat untuk berkunjung kemari, Anda bisa menyewa layanan open trip untuk menyebrang ke Pahawang
dengan biaya kisaran Rp. 500.000/hari dengan kapasitas angkut 15 orang atau
lebih. Juga disediakan berbagai macam fasilitas yang akan membuat Anda betah
berlama-lama di tempat ini. Apakah Anda berminat? :D
#Let’sVisitLampung
- 09.58
- 0 Comments
Jika
seseorang yang tinggal di luar kota bertandang ke Tanjungbintang, sebuah
pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “Pak/Mas,
yang jual bungur di mana ya?”.
Yah,
sebuah pertanyaan yang sudah tidak asing bagi orang yang berkediaman di Tanjungbintang.
Selama beberapa tahun terakhir, popularitas batu yang dinamakan bungur ini
makin melejit. Hampir semua orang mengenal batu ini, dan tidak sedikit yang
memakainya. Bukannya ada maksud apa, tapi cincin bungur sedang ngetrend di sini.
Cincin batu bungur khas
Tanjung Bintang
Sejak
lama, Tanjungbintang dikenal sebagai penghasil batu akik dengan kualitas tinggi.
Berbeda dengan sepupunya, Bungur Kalimantan, yang sudah lebih dulu dikenal
khayalak ramai, bungur dari Tanjungbintang memiliki struktur yang lunak
sehingga mudah dibentuk. Warnanya pun bervariasi dari ungu muda hingga ungu tua.
Sejak
pertama kali ditemukan sekitar tahun ’70an, batu bungur dianggap batu sakral
yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Yang pertama memakainya pun orang-orang
yang sudah berumur 40-an ke atas. Namun, karena keapikan rupanya, bungur saat
ini tidak hanya dianggap sebagai batu sakti, melainkan juga sebuah karya alam
yang patut dikagumi keindahannya. Penggunanya pun semakin bervariasi, mulai
dari remaja 17 tahunan sampai kakek-nenek! Waaahhh..
Ketika
tulisan ini dipublikasikan, rata-rata pekerjaan warga adalah petani. Ada
sedikit yang berwirausaha seperti membuka pabrik penggilingan beras dan
pembuatan tiwul, sedangkan sisanya bekerja di pabrik perusahaan asing yang ada
di sekitar kawasan Tanjungbintang. Dengan meningkatnya popularitas batu bungur,
sebagian masyarakat pun mulai meninggalkan pekerjaan lamanya dan memutuskan
untuk menjadi pencari dan penggosok batu bungur. Harga yang tinggi membuat
pekerjaan ini sangat menguntungkan. Satu batu berukuran kecil dengan diameter 10mm
dihargai mulai dari dua ratus ribu hingga lima puluh juta rupiah. Menggiurkan,
bukan? Apakah Anda berminat? :D
#Let’sVisitLampung
- 09.52
- 0 Comments
Curuk.
Begitu warga setempat menamainya. Menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi
ketika musim hujan tiba, namun belum menjadi landmark-nya Merbau Mataram. Hehe. Bagi orang yang belum pernah
berkunjung ke kecamatan Merbau dan sekitarnya, pasti merasa asing dengan tempat
wisata ini. Namun, bagi yang sering hiking
naik turun gunung, lokasi ini menjadi salah satu tujuan yang sangat
menyenangkan.
Terletak
di antara dua gunung (atau perbukitan tinggi), membuat sebuah aliran sungai
yang memiliki air terjun. Yah, nggak tinggi-tinggi amat sih. Tapi sesuai dengan
gunungnya yang tidak terlalu tinggi juga.
Perjalanan
ke sini membutuhkan waktu ± 1 jam setelah memarkirkan kendaraan di dusun paling
ujung Desa Sumberejo. FYI, jalan menuju desa satu ini bisa saya bilang membuat
kita merasa sedang berkendara ke surga. Jalannya berbatu besar, berkelok-kelok,
kanan hutan, kiri jurang. Silap sedikit, nyemplung ke bawah. Haduuh. Belum lagi
tempat yang sepi, membuat kita sebagai pengunjung merasa was-was plus
deg-degan. Untungnya, jarak antara perumahan satu dengan perumahan lain tidak
terlalu jauh. Jadi kalo ada begal, tinggal teriak aja (NB: asal jangan mati
duluan). Eeehh, jangan takut dulu. Di sini ngga ada begal, kok. Cuma suasananya
aja yang sepi. Buat orang disekitar sini, sih, biasa.
Oh
iya. Untuk pergi ke Desa Sumberejo dari pusat kecamatan sendiri memakan waktu sekitar
20 menit. Bukan karena jauh, tapi lebih karena jalan yang kurang baik. Nah,
nanti, silahkan berkendara sampai ujung desa ini (cukup ikuti jalan), lalu
parkirlah di rumah paling ujung (jangan lupa izin terlebih dahulu dengan
pemiliknya). Dari sini, Anda harus berjalan kaki menuju sumber air. Yah karena
ini gunung, perlu naik sampai puncak, lalu turuuuuunnn ke bawah. Hati-hati ya. Belokannya
tajam. Jangan lupa mengendalikan kecepatan kaki, jangan terlalu cepat. Anda
bisa terperosok ke jurang!
Setengah
jalan menuruni gunung, Anda harus berbelok ke kanan kalau ngga mau kebablasan
sampai Panjang. Jalan setapaknya kecil, di bawah sebuah pohon. Orang yang
pertama kali pergi ke sini biasanya akan nyasar kalo ngga liat jalan setapaknya
duluan. Jalan setapak ini akan membawa Anda menyusuri sungai berbatu yang akan
menuntun Anda untuk menemukan air terjun. Sungainya berbatu besar dan licin,
apalagi saat memasuki musim penghujan. So,
be carefull.
Jalan sungai menuju Curuk
Dan
setelah mengalami pengalaman super menyenangkan dan mendebarkan plus melelahkan,
I would like to say, Welcome to Curuk!
Sungai Curuk
Air terjun di Curuk
Anda
boleh kok mencicipi airnya, asal di tempat yang tidak diinjak manusia. Jika
ingin, Anda boleh naik lebih ke atas dan Anda akan menemukan sumber air yang
sangat segar. Waaahhh!
Di
sini terdapat tiga air terjun dan tentunya bertingkat. Penulis sendiri, cuma
berani menginjakkan kaki di air terjun pertama, karena untuk mencapai air
terjun di atasnya, harus menaiki lereng yang cukup terjal. Saya takut jatuh.
Rasa
lelah yang tadi hinggap akan segera lenyap begitu Anda nyemplung ke dalam air. Sangat menyejukkan! Dan tempat yang sunyi membuat
lokasi ini cocok untuk tempat bersantai dan menikmati bekal bersama teman.
Oh
iya, jangan membuang sampah sembarangan. Jika memang ada sisa plastik makanan
dan sebagainya, lebih baik dimasukkan terlebih dulu ke tas yang Anda bawa lalu
membuangnya di kotak sampah. Walau belum menjadi lokasi wisata resmi, namun
kebersihan di sini harus tetap dijaga. Setuju, guys? So, tertarik untuk berkunjung? :D
#Let’sVisitLampung
- 09.41
- 0 Comments







