Bungur, Ekonomi Kreatif dianjungbintang
09.52
Jika
seseorang yang tinggal di luar kota bertandang ke Tanjungbintang, sebuah
pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “Pak/Mas,
yang jual bungur di mana ya?”.
Yah,
sebuah pertanyaan yang sudah tidak asing bagi orang yang berkediaman di Tanjungbintang.
Selama beberapa tahun terakhir, popularitas batu yang dinamakan bungur ini
makin melejit. Hampir semua orang mengenal batu ini, dan tidak sedikit yang
memakainya. Bukannya ada maksud apa, tapi cincin bungur sedang ngetrend di sini.
Cincin batu bungur khas
Tanjung Bintang
Sejak
lama, Tanjungbintang dikenal sebagai penghasil batu akik dengan kualitas tinggi.
Berbeda dengan sepupunya, Bungur Kalimantan, yang sudah lebih dulu dikenal
khayalak ramai, bungur dari Tanjungbintang memiliki struktur yang lunak
sehingga mudah dibentuk. Warnanya pun bervariasi dari ungu muda hingga ungu tua.
Sejak
pertama kali ditemukan sekitar tahun ’70an, batu bungur dianggap batu sakral
yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Yang pertama memakainya pun orang-orang
yang sudah berumur 40-an ke atas. Namun, karena keapikan rupanya, bungur saat
ini tidak hanya dianggap sebagai batu sakti, melainkan juga sebuah karya alam
yang patut dikagumi keindahannya. Penggunanya pun semakin bervariasi, mulai
dari remaja 17 tahunan sampai kakek-nenek! Waaahhh..
Ketika
tulisan ini dipublikasikan, rata-rata pekerjaan warga adalah petani. Ada
sedikit yang berwirausaha seperti membuka pabrik penggilingan beras dan
pembuatan tiwul, sedangkan sisanya bekerja di pabrik perusahaan asing yang ada
di sekitar kawasan Tanjungbintang. Dengan meningkatnya popularitas batu bungur,
sebagian masyarakat pun mulai meninggalkan pekerjaan lamanya dan memutuskan
untuk menjadi pencari dan penggosok batu bungur. Harga yang tinggi membuat
pekerjaan ini sangat menguntungkan. Satu batu berukuran kecil dengan diameter 10mm
dihargai mulai dari dua ratus ribu hingga lima puluh juta rupiah. Menggiurkan,
bukan? Apakah Anda berminat? :D
#Let’sVisitLampung


0 komentar